|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Resensi Buku » Fakta dan Konsep dalam Mapel IPS

Fakta dan Konsep dalam Mapel IPS

Kamis, 17 Januari 2013 12:46:39  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 3703
Fakta dan Konsep dalam Mapel IPS

Standar kompetensi dan kompetensi dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) meliputi bahan kajian: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi. Mapel IPS bertujuan mengembangkan kepekaan terhadap masalah sosial, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat.

Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi pembelajaran IPS, perlu dikembangkan pendalaman materi IPS yang terpadu disertai dengan implementasi pembelajaran yang inovatif dan konstruktivis.

Sejak dikeluarkannya UU No 20/2003, PP No 19/2005, dan Permen No 22 dan 23/2006, dunia pendidikan mengalami perubahan yang signifikan. Mulai 2003 sebenarnya kita tidak lagi punya kurikulum nasional sebab tidak lagi menjadi wewenang pemerintah. Tidak ada lagi kurikulum sebagaimana kurikulum 1964, 1968, 1975, 1984, 1994. Kurikulum 2004 adalah kurikulum terakhir yang menggunakan label tahun.

Implikasinya, pengembangan kurikulum IPS tidak dilakukan pemerintah pusat melainkan tanggung jawab setiap satuan pendidikan. Istilah IPS untuk kurikulum di lembaga pendidikan kita baru digunakan sejak kurikulum tahun 1973. Sebelum itu istilah yang digunakan adalah Kewarganegaraan, yang digunakan sejak 1963. Sebelumnya, jadi setelah Indonesia merdeka sampai tahun 1963, istilah yang dipakai adalah Pengetahuan Umum.

Pada kurikulum 1984 dan 1994 istilah IPS merujuk pada salah satu mata pelajaran di tingkat SD dan SMP (Pendidikan Dasar). Sedangkan pada tingkat Sekolah Menengah Lanjutan digunakan istilah ilmu Sosial untuk program. Pada kurikulum 2004, posisi IPS di SD dan SMP masih sama dengan 1984 dan 1994. Sekolah Menengah Lanjutan khususnya SMA digunakan untuk program Ilmu Sosial dan Program Bahasa.

Antara ilmi-ilmu sosial (IIS) dengan IPS ternyata ada perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan. Yakni, ilmu-ilmu Sosial (Sosiologi, Ekonomi, Ilmu Politik, Geografi, Psikologi, Ilmu Hukum Antropologi, dan Sejarah) merupakan disiplin ilmu yang sudah memiliki tradisi panjang, yakni lebih dari dua abad. Masing-masing disiplin mempunyai aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis/teleologis yang jelas.

Teori-teori yang dihasilkan sudah mantap bahkan banyak di antaranya merupakan “grand theories”. Sebagai contoh buku Montesquieu, Spirit of Law, dipublikasikan periode 1620 sampai 1760. Kendati buku seringkali dinilai bertele-tele dan acak-acakan, namun inilah upaya pertama yang dengan sadar mengukuhkan ilmu politik sebagai ilmu sosial. Dalam proses pembelajaran IPS terdapat hal-hal pokok yang harus dipahami dan dikuasai oleh peserta didik. Hal-hal tersebut adalah fakta, dan konsep, generalisasi,

 

Fakta

Fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi dan terjamin kebenarannya. Fakta adalah segala sesuatu yang terjadi, dapat diamati, diraba, dilihat, dirasa dan terjadi pada tempat dan waktu tertentu. Artinya fakta merupakan suatu bukti terjadinya sesuatu. Bila sesuatu tersebut menyangkut kehidupan masyarakat banyak dan bersifat sosial, maka fakta tersebut disebut sebagai fakta sosial.

Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajibkan untuk) datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar.

Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid). Fakta dapat menyebabkan lahirnya teori baru. Fakta juga dapat menjadi alasan untuk menolak teori yang ada dan bahkan fakta dapat mendorong untuk mempertajam rumusan teori yang sudah ada. Di lain pihak teori dapat merangkum fakta dalam bentuk generalisasi dan prinsip-prinsip agar fakta lebih mudah dapat dipahami.

Banks (Ischak:2004:2.7) mengemukakan bahwa fakta merupakan pernyataan positif dan rumusannya sederhana. Ada kalanya guru mencari upaya untuk lebih menjelaskan pengertian fakta ini dengan cara yang sederhana misalnya dengan memberikan pertanyaan kepada siswa, seperti; (1) Siapakah teman anda yang tidak hadir hari ini; (2) Siapakah nama guru IPS Anda yang sedang mengajar saat ini?; (3) Ada berapa meja belajar yang ada di ruang ini ?

Jawaban yang dikemukakan siswa atas pertanyaan di atas merupakan fakta. Dengan demikian, akan disadari bahwa fakta itu amat banyak dan tak terhitung jumlahnya. Namun, perlu disadari bahwa fakta bukan tujuan akhir dari pengajaran IPS. Pengetahuan yang hanya bertumpu pada fakta akan sangat terbatas. Hal ini dikarenakan oleh : (1) Kemampuan untuk mengingat fakta sangat terbatas; (2) Fakta bisa berubah pada suatu waktu, misalnya tentang perubahan iklim di suatu kota, perubahan bentuk pemerintahan, dan sebagainya; (3) Fakta hanya berkenaan dengan situasi khusus.

Fakta merupakan salah satu bahan kajian yang amat penting dalam mata pelajaran IPS. Dengan kata lain bahwa fakta merupakan salah satu materi yang dikaji dalam IPS. Dengan fakta-fakta yang ada kita dapat menyimpulkan sesuatu atau beberapa peristiwa yang pernah terjadi. Fakta merupakan titik awal untuk membentuk suatu konsep. Dari beberapa konsep yang saling berkaitan kita dapat membentuk suatu generalisasi. Fakta, konsep, dan generalisasi merupakan bahan kajian dalam IPS yang harus dipahami siswa.

 

Konsep

Perang, damai, konflik, dan sebagainya merupakan peristiwa sosial. Apakah perang merupakan konsep? Mengapa perang disebut sebagai konsep? Apa ciri-ciri konsep? Konsep merupakan salah satu komponen dasar yang harus dikuasai untuk mempelajari IPS.

Bila beberapa fakta dikumpulkan dan dilakukan penarikan kesimpulan, maka hasilnya disebut dengan konsep.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 588), pengertian konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Menurut Soedjadi (2000:14) pengertian konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata.

Menurut Bahri (2008:30) pengertian konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek-objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental tak berperaga.

Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa). Jadi pengertian konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan barbagai fenomena yang sama. ”Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili kelas objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut yang sama.

Contohnya “keluarga”, maka dalam konsep keluarga itu pasti ada bapak, ibu, anak, saudara. Contoh konsep lain adalah korupsi. Korupsi merupakan suatu tindakan penyimpangan dari untuk kepentingan umum dialihkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Konsep adalah suatu kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu dan merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan berfikir dan memecahkan masalah.

Dari pengertian tersebut dapat ditarik sebuah ke simpulan bahwa konsep mengandung atribut. Atribut adalah ciri yang membedakan tabel objek atau peristiwa atau proses dari obyek, peristiwa atau proses lainnya. Atribut dapat didasarkan atas fakta berupa informasi konkret yang dapat dibuktikan melalui laporan seseorang atau hasil pengamatan langsung. Laporan verbal, gambar-gambar, chart yang berisi data dapat digunakan untuk mengkomunikasikan atribut.

Misalnya jika kita memperoleh sesuatu bahwa ada sebuah benda yang terbuat dari kayu, memiliki empat buah kaki, ada bidang datar di atas kaki tersebut yang dipergunakan untuk menulis. Maka dengan kemampuan mental kita, informasi yang berupa fakta tersebut kita sederhanakan dengan cara memberi nama atau label yaitu ”meja tulis”. Dari contoh tersebut menggambarkan bahwa seseorang harus terlibat dalam proses berfikir, karena ia sedang memikirkan tentang contoh-contoh konsep.

Proses berfikir tersebut sering disebut dengan istilah ”konseptualisasi”. Oleh karena itu, kesan mental (mental image) dari seseorang tentang suatu konsep akan berbeda karena tergantung kepada latar belakang pengetahuan, ilmu yang dimiliki, dan budaya orang yang melakukan konseptualisasi. Karena setiap orang membangun konsepnya sendiri berdasarkan pengalaman, dalam membaca buku, diskusi dan sebagainya sehingga ia menangkap sesuatu bahwa: (1) Konsep bukan suatu verbalisasi/tidak spesifik; dan (2) Konsep adalah kesadaran mental yang bersifat internal yang mempengaruhi perilaku.

Konsep sangat penting bagi kehidupan manusia karena konsep dapat membantu seseorang untuk mengorganisasikan informasi atau data yang mereka terima. Konsep dapat menempatkan informasi dalam kategori-kategori atau kelompok-kelompok dan mempertimbangkan hubungan antar data. Berbeda dengan fakta yang terbatas pada situasi khusus, konsep mempunyai penerapan yang luas dan memiliki banyak penafsiran. (*) sumber: kemdikbud

 

Baca "Resensi Buku" Lainnya

Komentar Anda